Ternyata Islam Mengajarkan Feminisme Sejak Zaman Nabi Muhammad. Sebuah Pendekatan Hermenutik oleh Kelvin Alfayed

Saya menilai banyak orang melihat bahwa agama Islam kurang begitu ramah terhadap kaum wanita dan memandang bahwa wanita derajatnya di bawah laki-laki. Namun sebenarnya, jika kita menganalisisnya lagi dengan seksama. Ada kekeliruan di antara interpretasi bahwa Islam memandang derajat wanita di bawah laki-laki dengan basis nilai Islam itu sendiri.

Gerakan feminisme di zaman sekarang adalah untuk membebaskan dari kezaliman dengan cara yang mulia, tidak ada caci maki tanpa merendahkan derajat individu ataupun kelompok. Melalui pembagian kerja dan fungsi masing-masing. Dalam beberapa kasus, hal ini tidak selalu harus laki laki yang bekerja di luar, jika memang sudah ada kesepakatan tertentu ditinjau dari fungsi dan kondisi keterbatasan hal ini bisa jadi terbalik. Laki-laki yang bekerja mengurusi dalam rumah. Tidak perlu merasa tinggi ketika bekerja di luar ataupun merasa rendah ketika bertugas mengurusi dalam rumah.

Dilihat dari sejarah, kesadaran akan isu feminisme dan ketidakadilan gender mulai terlihat dari karya tulis atau literature Muslim pada abad ke 19 sampai akhir abad 20. 

Jadi pada saat itu, terjadi kegelisahan yang amat besar dari kaum wanita yang mulai mempertanyakan  apakah mungkin Islam mengajarkan perlakuan yang tidak adil kepada kaum wanita?

Apakah mungkin Nabi Muhammad yang diketahui demikian baik akhlaknya sampai bersabda merendahkan harkat dan martabat wanita?

Apakah benar adat istiadat Islam yang mengarah kepada perlakuan yang tidak adil terhadap berasal dari hukum Islam?


Padahal, Islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin (merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, baik itu hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia). Jangan jangan manusia yang salah tafsir atau orang sengaja menafsirkan seperti itu untuk kepentingan kelompok maupun pribadi. 


Kepentingan politik, seperti ulama yang mempunyai kuasa atas menafsirkan dan mengendalikan struktur sosial masyarakat.

Laki laki  tidak ingin jatah dan peluangnya dikurangi begitu saja hanya karena ada perempuan yang kualitas serta kecerdasannya melebihi kaum laki-laki.

Hal itu boleh jadi benar, karena pada saat zaman Nabi Muhammad. Kontribusi perempuan sanggatlah besar dan tidak tergantikan. Hal ini dibuktikan dengan Khadijah (Istri Nabi Muhammad) yang ketika itu memberi modal untuk berdagang sekaligus menjadi konsultan Nabi Muhammad.


Untuk membantu memahami hal ini, mari kita gunakan pendekatan hermeneutik.

Manusia adalah self-interpreting being. Dengan membongkar tafsiran lama yang kurang ramah terhadap perempuan khususnya Hadits. Untuk mendukungnya mari kita gunakan asumsi kesetaraan menggunakan ayat Al Quran.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Al-Hujarat 13).

Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa], laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar (Al-Ahzab 35).


Dari kedua ayat diatas sebenarnya menjelaskan, tidak ada yang salah dengan agama Islam terhadap perempuan. Yang membedakanya hanyalah soal ketakwaan. Dan yang bisa mengukur ketakwaan seseorang hanyalah Allah.

Hal yang perlu ditekankan lagi adalah menganai basis nilai agama Islam yang harus selalu diingat oleh Muslim. Yang pertama dan utama adalah Tauhid. Jadi hanya Allah SWT yang berhak berada di atas manusia, tidak ada dominasi serta hegemoni. Ini berlaku untuk semua tanpa terkecuali.

Kedua adalah keadilan. Jika terjadi ketimpangan atau ketidaksetaraan dalam arti memandang derajat perempuan rebih rendah daripada laki-laki. Maka disitu muncul ketidakadilan.

Selanjutnya adalah kebaikan. Ini sifatnya esensial,  yang terkadang tidak bisa dicapai oleh akal manusia. Contohnya sederhananya adalah Allah SWT memerintahkan umat Musim untuk salat menghadap ke kiblat. Pernahkah kalian berpikiran, bukankah manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhan dengan cara apa pun? Tapi percayalah, Tuhan memberikan makna esensial dan kebaikan dibalik semua perintah-Nya.

Sebagai Umat Muslim kita harus cerdas menganalisis berbagai macam fenomena yang terjadi saat ini. Apakah semua itu relevan dengan Islam Risalah atau hanya Islam Politik belaka?
Yang dimaksud Islam Risalah adalah, pesan Ilah yang berupa cita-cita yang bersumber dari Alquran. Berbanding terbalik dengan Islam politik, yang menjadikan Islam hanya untuk alat praktik kekuasaan pada tindakan manusia yang didorong oleh hawa nafsu dan kepentingan di dalamnya.

Untuk menafsirkan Ayat Suci maupun Hadis, hendak jangan merasa memandang dirinya yang paling benar, hal itu untuk menghindari tindakan yang keliru yang hanya akan menimbulkan kesombongan.

Dan selalu ingat bahwa hasil terjemahan itu terbatas atas kepentingan dan konteks masing-masing. Hal itu sah saja, asalkan jangan melukai visi dari Islam secara keseluruhan. Yakni agama  Rahmatan Lil Alamin (merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, baik itu hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia).


Selama ini yang sering menjadi patokan bahwa Islam tidak ramah terhadap perempuan yaitu Hadis Misoginis dan Teks Sakral atau Kitab Suci. Adapun, cara Menyikapi Hadis Misoginis adalah melalui Analisis Historis dan Analisis Sub Gender. Atau bisa juga melakukan Double Investigation: kritik terhadap Hadis

Menghadapi teks sakral atau Kitab Suci: Membaca secara holistik visi teks, mencoba menyusuri seluruh Al Quran dan hadis yang berbicara tentang kesetaraan laki laki perempuan dan ayat ayat yang menolak, masing-masing teks yang pro dan kontra dikonfirmasikan dan dicari relevansi serta validitas melalui analisis terhadap Ashab al Nuzul, Ashab al Wurud, sosio historis yang melengkapi, pribadi para penafsir, perawi, motif yang mempengaruhi maupun perkembangan. Karena pernah ada satu kasus (saya lupa detailnya) seorang Muslim pembuat hadis, membuat tafsiran ayat Al-Quran dan sengaja menerjemahkan dengan keliru karena ia mempunyai sejarah yang kurang begitu mengenakan terhadap dirinya yang pernah dilakukan oleh banyak perempuan. Sehingga membuat tafsir yang mengintimidasi hak perempuan.


Dari penafsiran teks suci ini akan terbuka wawasan terhadap agama dan akan tersingkap antara yang sakral dan profal, antara yang sekedar tradisi, budaya dan ajaran murni.

Yang paling penting penulis ingin berpesan perempuan juga harus bisa mengambil peran yang besar dalam menghidupkan perannya serta terus berjuang demi meraih kesetaraan dan keadilan. Dalam hal ini perempuan memiliki hak untuk berpartisipasi aktif dalam membentuk budaya, hak untuk menjadi seorang ahli agama, hak dalam mengambil keputusan politik dan pembentukan manusia.

Semoga tulisan ini mampu menjadi dikursus dan bahan diskusi pembaca dan dapat membuka cakrawala pengetahuan. Mohon maaf jika ada kesalahan karena itu datang dari saya. Dan kebenaran datang dari Tuhan Yang Maha Benar/Al Haqq (read:Allah SWT). Jangan lupa bersyukur –Kelvin Alfayed

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seeking The Middle Way of Indonesia's Democracy by Kelvin Alfayed

Kebenaran (Tidak) Ada Yang Absolut? Sebuah tulisan oleh Kelvin Alfayed