Kebenaran (Tidak) Ada Yang Absolut? Sebuah tulisan oleh Kelvin Alfayed
Bagaimana
cara mengukur kebenaran atau bahkan melihat sesuatu mana yang benar dan salah?
Kalo kaum Sofi bilang kebenaran itu adalah yang menang.
Mereka
berani mengatakan kebenaran tidak ada yang mutlak, oleh karena pikiran manusia
pada dasarnya adalah terbatas, maka tidak mungkin manusia mengetahui kebenaran
yang asli (Skeptisme). Dan kebenaran yang asli hanya dimiliki oleh Tuhan dan
dipahami oleh orang orang yang diberi anugerah oleh Tuhan (Nabi dan Rasul).
Kebenaran
itu bersifat statis mengikuti ruang dan waktu. Boleh jadi sesuatu A yang orang
orang sekarang dianggap tidak benar, besok atau lusa atau bahkan 10 tahun ke
depan sesuatu A ini bisa dibenarkan dengan beberapa alasan.
Yang
paling signifikan terhadap kebenaran yakni kebudayaan dan perkembangan
teknologi serta ilmu pengetahuan. Jadi dalam suatu wilayah tertentu yang
perkembangan ilmu pengathuan serta teknologinya berkembang cepat, semakin cepat
pula perubahan statis pada suatu kebenaran.
Malahan
sesuatu yang jelas salah bisa dianggap benar melaui retorika.
Apakah
retorika? Retorika ialah seni sebagai suatu usaha untuk mempengaruhi orang lain
menggunakan bahasa. Dengan ini kita dengan mudah memperdaya orang banyak untuk
percaya apa yang kita bicarakan. Hal ini sering dipakai oleh para politikus
pada saat kampanye, mereka sering menggunakan retorika dalam rangka meraih
suara sebanyak banyaknya dari rakyat.
Mereka
sering “membohongi” rakyat menggunakan rekayasa data atau manipulasi jenis
lain. Mereka melihat bahwa mencari kebenaran bukanlah menjadi prioritas. Yang
terpenting adalah meraih suara sebanyak banyaknya suara melalui retorika tadi.
Sebenarnya
ada dua alat utama yang bisa digunakan sebagai retorika.
Pertama,
eristik. Yakni argumen yang dipakai untuk memenangkan debat dan dimaksudkan
untuk mengalahkan lawan. Tujuannya tidak lain “making worse argument seems
better”. Maksudnya adalah mencari titik kelemahan argumen lawan, lalu kita
mencari argumen yang bisa mematahkan argumen lain.
Yang
kedua ada Antilogic. Argumen ini sebgai preposisi yang berlawanan. Maksudnya
ketika lawan debat mengerluarkan pendapat: Bumi itu bulat. Maka lawan akan
mengatakan bahwa Bumi itu tidak bulat.
Kedua
duanya efektif untuk mempengaruhi orang lain pecaya pada sesuatu hal yang kita
yakini benar. Sebenarnya mudah saja agar orang percaya pada kita. Dengan kita
menjadi orang yang bijak, automatis orang pun akan mudah dipengaruhi oleh diri
kita. Setidaknya kita harus menguasai dan paham betul apa indikasi menjadi
bijak setidaknya ada tiga. Yakni Logos,
Ethos dan Pathos (Logika, Kepercayaan dan Nilai).
Terakhir,
penulis ingin mengutip pemikiran dari Georgias. Beliau adalah salah satu Filsuf
yang cukup berpengaruh. Di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang exist. Artinya, tidak ada sesuatu apa
pun yang ada, karena tidak ada sebab/awal yang masuk akal, sesuatu itu harusnya
pun awal/sebab dari sesuatu yang lain dari bukan sesuatu. Contoh, saya memiliki
buku. Buku itu sebetulnya tidak ada. Yang ada hanya bahannya. Bahannya ini dari
bahan yang lain. Jikalau memang ada yang exist/ada
itu adalah hanya sebuah ketidaktahuan manusia.
Komentar
Posting Komentar