Memaknai Hakikat Realitas Tuhan. Sebuah tulisan oleh Kelvin Alfayed
Setiap manusia pasti memiliki pandangan tersendiri yang khas mengenai apa yang mereka tangkap terhadap realitas. Boleh jadi ada manusia yang dominan menggunakan indera serta akalnya dalam pendekatan mencapai "Tuhan" bahkan ada yang masih berpegang teguh kepada doktrin klasik melalui iman yang mereka miliki untuk menggapai "Tuhan".
Melihat masa lalu sebelum masa pencerahan muncul di Eropa, agama digunakan pemuka agama kristen sebagai alat untuk penindasan kaum kecil dan pengekangan terhadap masyarakat agar mereka bisa terus melanggengkan kekuasaan serta tidak melawan kebijakan gereja. Mereka menertawakan rakyat yang menderita sambil meminum segelas wine.
Baru zaman pencerahan muncul, para pemikir hebat mulai mengonsepkan bagaimana tatanan masyarakat agar bisa lebih maju dan terlepas dari dogma gereja yang menyulitkan masyarakat berkembang. Bahkan Islam pun terkena pengaruhnya dari masa pencerahan ini, terbukti atas Negara Turki yang mengganti ideologi Islam menjadi negara sekuler yang digagas oleh Kemal Ataturk. Sukarno sang pendiri NKRI sendiri pun mengakui dan memahami dan ditulis melalui buku “Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I".
Terkadang agama menjadi 2 sisi, yang satu agama digunakan untuk kebaikan dan disisi lain agama digunakan sebagai alat untuk kepentingan semata.
Cara pandang manusia mengenai realitas dipengaruhi beberapa faktor, faktor yang utama adalah pengalaman, latar belakang dan lingkungan.
Manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup dan cara berpikir, tentu cara berpikir mempengaruhi apa yang manusia lakukan. Penulis mengamati negara negara di Barat yang maju dengan teknologi dan inovasi tidak lepas dari cara berpikir mereka yang logis dan masuk akal. Mereka cenderung mengabaikan hal hal yang tidak masuk akal, seperti dunia spiritual yang tidak terlihat oleh indra.
Bahkan banyak yang menolak untuk percaya. Di Amerika sendiri banyak warga yang beragama Kristen memilih untuk tidak pergi ke gereja tiap hari Minggu. Untuk yang berkuliah, mereka memilih untuk mengerjakan tugas atau sekedar membaca buku kuliah. Sedangkan untuk yang sudah bekerja, mereka menghabiskan waktu dengan keluarganya seharian.
Di Indonesia, sejak dirumuskannya Pancasila sering terjadi ketegangan mengenai sudut pandang negara. Sebagian berpendapat, negara ini harus berlandaskan dan dibangun dengan nilai Islam. Tapi muslim lainnya, percaya bahwa Indonesia diciptakan untuk kebaikan semua warga tidak pandang bulu agama, ras ataupun suku.
Karena keadilan seorang muslim, belum tentu adil untuk orang yang menganut agama lain. Oleh karena itu, negara ini dibangun atas nilai Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika. Kebaikan untuk semua. Saya sendiri heran, sampai sekarang masih ada kelompok dari pemuka agama, yang terkesan membela agama atau bahkan membela Tuhan. Bukankah Tuhan tidak perlu dibela? Bukankah Tuhan sudah Maha Segalanya?
Lihat sekarang yang terjadi, FPI (Front Pembela Islam) Almarhum Gusdur bahkan pernah mengecap organisasi ini sebagai organisasi bajingan (video nya masih ada sampai sekarang di Youtube). Mereka sering melakukan ceramah yang “marah marah” sering memancing amarah dari agama lain bahkan tidak sering menimbulkan konflik. Ah sudahlah, mungkin mereka lupa untuk apa agama diciptakan.
Pada intinya biarlah seseorang menjalankan ajaran agama masing-masing. Lebih kepada agama untuk keperluan private, jangan dileburkan antara agama dan kehidupan bernegara dan politik. Kalau tidak mau kembali kepada zaman sebelum pencerahan di Eropa, itu artinya umat manusia mengalami sebuah kemunduran.
Melihat masa lalu sebelum masa pencerahan muncul di Eropa, agama digunakan pemuka agama kristen sebagai alat untuk penindasan kaum kecil dan pengekangan terhadap masyarakat agar mereka bisa terus melanggengkan kekuasaan serta tidak melawan kebijakan gereja. Mereka menertawakan rakyat yang menderita sambil meminum segelas wine.
Baru zaman pencerahan muncul, para pemikir hebat mulai mengonsepkan bagaimana tatanan masyarakat agar bisa lebih maju dan terlepas dari dogma gereja yang menyulitkan masyarakat berkembang. Bahkan Islam pun terkena pengaruhnya dari masa pencerahan ini, terbukti atas Negara Turki yang mengganti ideologi Islam menjadi negara sekuler yang digagas oleh Kemal Ataturk. Sukarno sang pendiri NKRI sendiri pun mengakui dan memahami dan ditulis melalui buku “Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I".
Terkadang agama menjadi 2 sisi, yang satu agama digunakan untuk kebaikan dan disisi lain agama digunakan sebagai alat untuk kepentingan semata.
Cara pandang manusia mengenai realitas dipengaruhi beberapa faktor, faktor yang utama adalah pengalaman, latar belakang dan lingkungan.
Manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup dan cara berpikir, tentu cara berpikir mempengaruhi apa yang manusia lakukan. Penulis mengamati negara negara di Barat yang maju dengan teknologi dan inovasi tidak lepas dari cara berpikir mereka yang logis dan masuk akal. Mereka cenderung mengabaikan hal hal yang tidak masuk akal, seperti dunia spiritual yang tidak terlihat oleh indra.
Bahkan banyak yang menolak untuk percaya. Di Amerika sendiri banyak warga yang beragama Kristen memilih untuk tidak pergi ke gereja tiap hari Minggu. Untuk yang berkuliah, mereka memilih untuk mengerjakan tugas atau sekedar membaca buku kuliah. Sedangkan untuk yang sudah bekerja, mereka menghabiskan waktu dengan keluarganya seharian.
Di Indonesia, sejak dirumuskannya Pancasila sering terjadi ketegangan mengenai sudut pandang negara. Sebagian berpendapat, negara ini harus berlandaskan dan dibangun dengan nilai Islam. Tapi muslim lainnya, percaya bahwa Indonesia diciptakan untuk kebaikan semua warga tidak pandang bulu agama, ras ataupun suku.
Karena keadilan seorang muslim, belum tentu adil untuk orang yang menganut agama lain. Oleh karena itu, negara ini dibangun atas nilai Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika. Kebaikan untuk semua. Saya sendiri heran, sampai sekarang masih ada kelompok dari pemuka agama, yang terkesan membela agama atau bahkan membela Tuhan. Bukankah Tuhan tidak perlu dibela? Bukankah Tuhan sudah Maha Segalanya?
Lihat sekarang yang terjadi, FPI (Front Pembela Islam) Almarhum Gusdur bahkan pernah mengecap organisasi ini sebagai organisasi bajingan (video nya masih ada sampai sekarang di Youtube). Mereka sering melakukan ceramah yang “marah marah” sering memancing amarah dari agama lain bahkan tidak sering menimbulkan konflik. Ah sudahlah, mungkin mereka lupa untuk apa agama diciptakan.
Pada intinya biarlah seseorang menjalankan ajaran agama masing-masing. Lebih kepada agama untuk keperluan private, jangan dileburkan antara agama dan kehidupan bernegara dan politik. Kalau tidak mau kembali kepada zaman sebelum pencerahan di Eropa, itu artinya umat manusia mengalami sebuah kemunduran.
Komentar
Posting Komentar