Merumuskan Landasan Moralitas dan Etika Manusia oleh Kelvin Alfayed
Pada zaman post modern pada saat ini, banyak pandangan yang skeptis mengenai realita yang ada saat ini, dimana orang orang mempunyai tindakan yang indentik mengabaikan nilai moral, tidak terkecuali di Indonesia. Dalam kesempatan ini, penulis lebih tertarik membahas dasar mengenai moralitas dibanding mengkritik runtuhnya moral manusia itu sendiri.
Pada dasarnya tujuan utama manusia adalah memaksimalkan kebahagiaan dan kesejahteraan dari masing-masing individu. Walaupun memang tidak bisa dipisahkan antara kepentingan individu dengan masyarakat. Tapi sebenarnya masyarakat hanyalah sebuah sarana untuk memenuhi dan mengejar tujuan utama.
Moralitas yang ideal sesungguhnya diperlukan kebijaksanaan untuk lebih mengutamakan kebahagiaan jangka panjang. Namun hal itu jarang menerima dengan pengakuan eksplisit maupun kata kata. Ada hal yang signifikan untuk membedakan mana tindakan bermoral maupun amoral, tergantung pada urutan mana yang lebih dahulu muncul antara rasa sakit ataupun rasa senang. Dengan cara berpikir seperti itu maka bisa diambil contoh pernyataan bahwa, “amoral untuk mabuk karena pusing kepala menyusul setelah minum, tapi jika sakit kepala yang datang terlebih dahulu, dan minum sesuah itu, maka bermoral untuk mabuk.” Kira kira seperti itu gambaran analogi untuk lebih mudah memahaminya.
Masih banyak orang yang memperdebatkan dari mana datangnya nilai moral itu. Banyak masyarakat yang berasumsi bahwa agama adalah satu satunya sumber moral yang dapat digunakan. Namun, Immanuel Kant dan Al-ghazali mengkritik mengenai pendapat ini. Mereka secara bersamaan menolak adanya doktrin yang bersifat dogmatis serta spekulatif yang bersifat metafisika. Hal itu dikarenakan manusia dapat menggunakan akalnya dan instuisi secara mandiri untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Maka dari itu manusia dituntut untuk berikhtiar untuk menilai baik atau buruk segala sesuatu terus menerus. Meskipun mereka menyadari faktanya, akal manusia mempunyai batasan dalam kemampuannya memahami sebuah realitas. Hal itu bisa dipahami tidaklah automatis apabila suatu masyarakat menganut sebuah agama tertentu, maka masyarakat itu memiliki kesadaran moral yang tinggi.
Immanuel Kant melihat manusia dapat bertindak melalui 2 pertimbangan, yakni akal dan wahyu dari Tuhan. Akal berbeda dengan wahyu Tuhan, melalui akal manusia menggunakan instuisi dan rasional untuk melakukan sebuah tindakan apapun. Namun pengetahuan tentang etika tidak bisa dicapal hanya menggunakan akal murni. Sementara Al-Ghazali menolak gagasan perlunya hukum sebab akibat yang terdapat pada alam dan tindakan manusia, karena menurutnya tiap individu dapat menangkapnya secara berbeda beda atau relatif.
Aturan dan hukum moral itu seharusnya bersifat universal, jika tidak bersifat universal maka itu bukan aturan sama sekali. Harus mencakup semua aspek dan lapisan masyarakat, seperti hukum kebebasan dan hak asasi yang memang sudah ada sejak manusia lahir. Untuk memahami sebuah kebebasan, jika itu memiliki karakter maka seharusnya karakter itu ialah kehendak. Kita harus memiliki kehendak sebagai “the power of rational being” untuk melalukan tindakan apapun sesuai dengan konsep hukum itu. Kehendak itu bisa dipengaruhi dan berubah sewaktu - waktu dalam rohaniah kita dan indera sebagai pertimbangan. Semua perilaku manusia hendaknya dilakukan secara sadar. Karena manusia diberkati untuk berpikir secara rasional, oleh karena itu untuk berpikir secara rasional dan jernih kita harus menguasai kesadaran dan mempertimbangkan sebab akibat.
Lebih jauh lagi, Immanuel Kant menjabarkan kebaikan atau “The Moral Good/Virtue” sebagai tindakan manusia tidak hanya melihat dan termotivasi dari sebuah kondisi formal tercatat pada sebuah aturan tertentu yang tertulis. Namun, dengan kesadaran serta usaha manusia itu sendiri yang pada akhirnya akan mencapai sebuah kebaikan tak bersyarat, tidak mengharapkan imbalan apapun. Dengan begitu tindakan tersebut berdampak tidak hanya pada individu, tapi juga orang lain yang di sekitarnya merasakan kebaikan itu.
Selanjutnya, semua orang di dunia ini seharusnya saling membantu dalam pembentukan moral itu sendiri, secara spesifik otak manusia bekerja secara tidak sadar menangkap dan merekam apa yang terjadi di sekitar.
Sebab tidak ada manusia yang bisa mencapai kesempurnaan moral, yang ada hanyalah masyarakat yang sempurna. Maksud dari masyarakat sempurna yakni, masyarakat yang didalamnya semua keinginan dapat terpenuhi dan terpuaskan. Keinginan berfokus pada perubahan pada tahap tertentu, untuk mengubah keadaan yang tidak puas menjadi puas, atau setidaknya dari keadaan yang kurang puas.
Sebab tidak ada manusia yang bisa mencapai kesempurnaan moral, yang ada hanyalah masyarakat yang sempurna. Maksud dari masyarakat sempurna yakni, masyarakat yang didalamnya semua keinginan dapat terpenuhi dan terpuaskan. Keinginan berfokus pada perubahan pada tahap tertentu, untuk mengubah keadaan yang tidak puas menjadi puas, atau setidaknya dari keadaan yang kurang puas.
Semua berangkat dari sebuah penyelesaian masalah, tidak ada tingkah laku manusia tanpa didasari itu. Mengapa manusia harus makan dan minum, bekerja atau bermain, minum dan merokok atau tidak memilih keduanya. Mengapa manusia mempunyai keinginan untuk berbuat bila segalanya telah sempurna dan tidak ada masalah yang harus diselesaikan.
Kelirunya manusia banyak beranggapan kesempurnaan diri hanya dijadikan satu satunya tujuan moral yang benar. Dengan asumsi tersebut maka ketika manusia dengan karakter yang sempurna telah tercapai, mereka akan menghindari untuk bertanya kepada diri sendiri, apa yang harus mereka capai setelah mereka mencapai tingkat kesempurnaan karakter. Karena moral bukan hanya tidak sama sekali melalukan sebuah kejahatan atau keselahan, tapi moral itu akan mendorong manusia untuk terus melakukan hal yang positif. Jika tidak demikian, maka moral tidak akan sempurna. Manusia lebih tertarik untuk menanggapi mana yang paling baik atau mana yang paling buruk, maka pada saat itu juga kita mengalami kesulitan. Karena untuk memilih mana yang paling baik selalu dihadapi kepada pilihan diantara pilihan yang lain yang jumlahnya tidak terbatas. Tapi, yang harus digaris bawahi kita harus berhati hati terperosok kedalam relativisme moral dan anarkhi moral tanpa dasar. Sebab, saya pikir moral absolut itu bisa dibentuk pada masa depan yang tak terbatas ketika rasa sakit tidak ada lagi dan setiap orang secara sempurna telah menduduki lingkungan yang sempurna juga.
Komentar
Posting Komentar